Kesehatan dan Kedokteran

Melewatkan Sarapan Menyebabkan Obesitas pada Anak

Kesibukan yang semakin padat dari hari ke hari membuat sebagian keluarga melewatkan kesempatan paling berharga mereka setiap pagi, yaitu sarapan.Sarapan sudah sejak lama disebut sebagai salah satu kunci bugar dalam mengawali hari. Namun, rupanya melewatkan sarapan tidak hanya membuat tubuh lemas tetapi juga memiliki efek samping berupa kegemukan atau obesitas.

Sebuah penelitian nasional dengan durasi 10.5 tahun di Jepang pada anak sejak usia 1.5 tahun hingga 12 tahun membuktikan bahwa kebiasaan sarapan memiliki kaitan yang sangat erat dengan obesitas pada anak. Selain itu, terbukti bahwa sarapan adalah kebiasaan yang “diturunkan” dari orang tua.

Penelitian yang dilakukan terhadap 43663 responden tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan melewatkan makan pagi oleh ayah atau ibu akan meningkatkan risiko anak tidak sarapan. Hal ini akan semakin berisiko jika kedua orang tua mengabaikan sarapan. Jika dianalisis secara spesifik mengenai waktu yang paling berisiko, ditemukan bahwa orang tua yang melewatkan sarapan pada saat anaknya berusia 1.5-9 tahun akan menyebabkan sang anak berpotensi tidak sarapan 21 kali lebih sering dibandingkan dengan orang tua yang sarapan.

Anak Menolak Sarapan baru

Sarapan merupakan hal yang sangat penting dalam memulai hari, terlebih lagi pada anak (today.mims.com)

Anak yang tidak sarapan bukanlah hal sepele yang berakibat jangka pendek seperti mudah mengantuk di kelas atau lemas di pagi hari, namun riset ini menyoroti efek jangka panjang dan krusial. Semakin lama periode puasa yang terjadi akibat melewatkan sarapan dapat meningkatkan peradangan pada pembuluh darah perifer karena peningkatan konsentrasi prostaglandin insulin dan proses oksidasi lemak. Sebagai tambahan, sensitivitas terhadap insulin ini menyebabkan ritme sirkadian memberikan respon untuk menaikkan gula darah dan mengatur sekresi insulin pada waktu makan yang seharusnya untuk mempertahankan kestabilan tubuh. Sehingga, ketika seseorang makan di siang atau malam harinya, respon sirkadian tersebut masih akan berlanjut; laju metabolik masih melambat, namun terjadi peningkatan respon glikemik dan insulin. Kehidupan malam hari pada seseorang yang melewatkan sarapan dapat menyebabkan perpanjangan waktu glikemik di dalam darah dan gangguan respon insulin terhadap glukosa. Hal ini akan menyebabkan gangguan metabolik seperti obesitas dan diabetes.

Pada studi ini, dengan menggunakan standar indeks massa tubuh (IMT) Asia serta penyesuaian pada beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi terjadinya obesitas seperti penggunaan ASI, status ekonomi serta riwayat penyakit anak maka diperoleh rasio terjadinya obesitas dan kelebihan berat badan pada anak yang sering tidak sarapan adalah 2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang sarapan.

Obesitas pada anak adalah hal yang sangat berbahaya. Penanganannya sama sulitnya dengan mengatasi kekurangan gizi pada anak. Anak yang mengalami obesitas tidak hanya berpotensi besar untuk berlanjut menjadi obesitas pada remaja dan dewasa, namun juga berujung pada masalah-masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi, gangguan tidur, mudah terserang penyakit, dan bahkan terjadinya morbiditas dan mortalitas dini pada usia dewasa.

Beberapa studi menyebutkan bahwa obesitas terjadi karena adanya gen pembawa obesitas yang mampu memodifikasi jalur-jalur sinyal pada hormon yang mengatur metabolism tubuh dan penyimpanan lemak; namun, dengan adanya peningkatan jumlah penyandang obesitas yang dramatic dalam dekade terakhir, agak sulit jika pengaruh lingkungan dan gaya hidup tidak diperhitungkan, salah satunya sarapan.

Meskipun penelitian ini tidak menilai komposisi sarapan yang tepat untuk anak, namun penelitian ini mampu menjadi dasar yang kuat dalam strategi pencegahan obesitas melalui pembiasaan meluangkan waktu di pagi hari untuk sarapan sejak masih anak-anak, yang tentunya perlu dicontohkan oleh kedua orangtuanya.

Sumber: Okada C, Tabuchi T, Iso H. Association between skipping breakfast in parents and children and childhood overweight/obesity among children: a nationwide 10.5-year prospective study in Japan. Int J Obes. 2018; 1-9

1 reply »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s