Bumi dan Lingkungan

Emisi Karbon dari Pariwisata Meningkat Drastis

Pariwisata memiliki kontribusi yang sangat signifikan terhadap global GDP (gross domestic product) dan diperkirakan terus menaik hingga 4% setiap tahunnya melebihi dari sektor ekonomi lain. Namun, peningkatan aktivitas ekonomi ini memiliki efek samping terhadap lingkungan. Khususnya pada transportasi, meroketnya emisi karbon menyebabkan pariwisata berkontribusi terhadap perubahan iklim. Sensitivitas dan kerentanan dari objek wisata (seperti lokasi bermusim dingin atau tepi pantai) akan menempatkan objek tersebut pada perubahan yang drastis di masa depan.

Secara definisi, tapak karbon (carbon footprint) dari pariwisata meliputi emisi karbon yang terjadi secara langsung pada aktivitas wisata, sebagai contoh: pembakaran bahan bakar kendaraan, dan juga karbon yang terdapat dalam komoditas yang dibeli oleh wisatawan, sebagai contoh: makanan, akomodasi, dan oleh-oleh.

Manfred Lenzen, dkk melakukan penelitian mengenai carbon footprint yang dihasilkan oleh arus pariwisata pada 160 negara. Selain terjadi pertumbuhan perekonomian pariwisata dari 2.5 triliun USD menjadi 4.7 triliun USD, ditemukan juga bahwa sejak tahun 2009 hingga 2013, terjadi peningkatan carbon footprint dari 3.9 menjadi 4.5 GtCO2 (gigaton karbondioksida). Peningkatan yang terjadi ini empat kali lebih besar dari yang diestimasikan sebelumnya dan mencapai 8% dari emisi global. Perubahan ini diproyeksikan dapat menyebabkan perubahan iklim ke depannya.

Arus pergerakan perjalanan wisata di dunia

Arus pergerakan perjalanan wisata di dunia

Amerika Serikat menempati posisi pertama dari penghasil carbon footprint, diikuti oleh Cina, Jerman dan India; sebagai negara-negara dengan perjalanan domestik yang tinggi. Dalam kasus per kapita, Maladewa, Siprus, Seychelles dan Mauritius merupakan daerah dengan carbon footprint tertinggi; di mana pariwisata menyumbang emisi 30-80% dari total emisi nasional.

Jurnal yang dipublikasikan di Nature Climate Change ini juga menunjukkan bahwa adanya korelasi yang positif antara pendapatan per kapita dengan emisi karbon; orang yang sejahtera cenderung lebih sering berlibur. Namun, tidak diikuti dengan peningkatan teknologi ramah lingkungan. Hal ini menjadi suatu hal yang patut diwaspadai, terlebih lagi emisi karbon dari bahan bakar penerbangan internasional dan kapal laut tidak termasuk dalam target Persetujuan Paris, maka sekurang-kurangnya 15% emisi dari kegiatan wisata secara global tidak terikat dengan target pengurangan emisi karbon saat ini.

Oleh karena itu, maka organisasi perjalanan wisata dunia (UNWTO) menyarankan bahwa bagi wisatawan yang melakukan perjalanan wisata dekat, agar menggunakan transportasi darat serta bagi penyelenggara wisata agar menyiapkan akomodasi serta pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. UNWTO juga mendorong ditemukannya teknologi terbaru di bidang transportasi yang hemat energi.

Meskipun saran yang dituliskan dalam jurnal tersebut masih terlalu umum, namun pada dasarnya jurnal ini mengingatkan kita sebagai generasi milenial yang semakin suka mengeksplor daerah baru agar sadar akan dampak yang kita lakukan terhadap lingkungan. Jadi, mulailah dari hal yang paling mudah dengan tidak mengotori tempat wisata dengan sampah dan lakukan pengelolaan sampah sesuai dengan jenisnya.

Sumber: Lenzen, M, Sun Y, Faturay F, Ting Y, Geschke A, Malik A. The carbon footprint of global tourism. 2018 Macmillan Publishers Limited, part of Springer Nature.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s