Kesehatan dan Kedokteran

Obat Baru untuk Epilepsi Ditemukan!

Epilepsi merupakan gangguan saraf yang cukup sering kita temui; mencapai hampir 1% total populasi dunia. Penyakit ini dapat muncul karena adanya mutasi genetik, trauma saraf, atau gangguan pembentukan otak. Sejak tahun 1930, lebih dari 35 obat anti kejang telah dirilis, dan sebagian dapat terkontrol kejangnya dengan obat tersebut. Namun, lebih dari sepertiga pasien gagal merespon pada terapi saat ini dan akan berlanjut pada komplikasi penyakit jangka panjang; seperti gangguan tingkah laku dan mental.

Menariknya, banyak pasien yang tidak mempan terhadap obat anti-epilepsi namun merespon baik terapi intervensif diet ketogenik. Diet ketogenik merupakan diet yang tinggi lemak, dan rendah karbohidrat. Tujuan utama dari diet ini adalah pembentukan badan keton, yang dapat mengubah cara sel memproduksi energi, dan untuk mekanisme yang belum dipahami sepenuhnya, perubahan ini dapat menenangkan gelombang kejang dari otak epileptik.

Atas dasar hal itu, Ibhazehibo, dkk. melakukan penelitian dengan menggunakan prinsip tersebut untuk mengidentifikasi terapi baru epilepsi. Penelitian dilakukan pada ikan zebra, sebuah ikan tropis yang secara genetik mirip dengan manusia (70%) serta otaknya dapat menampilkan kejang dengan gelombang yang sama dengan kejang pada mansia (pasien epilepsi). Hal yang perlu digarisbawahi adalah, penelitian ini menggunakan obat selain obat anti-epilepsi yang sudah ada di pasaran dan sudah lulus uji, sehingga dapat dengan mudah diaplikasikan.

Ikan Zebra merupakan hewan terbaik untuk menggambarkan epilepsi pada manusia

Ikan Zebra merupakan hewan terbaik untuk menggambarkan epilepsi pada manusia (Sumber: Noldus Information Technology)

Melalui pendekatan tersebut, dari 120 obat yang memiliki potensi metabolism anti-epileptik dilakukan skrining melalui bioenergetics assay, ditemukan bahwa sebuah obat kanker bernama vorinostat (Zollinza) atau yang dikenal dengan suberanilohidroksamik asid (SAHA), memiliki efek menurunkan kejang harian pada ikan zebra dan tikus sebesar 60%.

Temuan ini sangat penting karena membuktikan sebuah hipotesis potensi jalur terapi dengan menghambat molekul HDAC (histone deacetylase) di otak dalam mengontrol epilepsi. Selama ini, potensi efektivitas inhibisi HDAC belum pernah dibuktikan secara langsung. HDAC adalah sekelompok enzim yang mempengaruhi jalan masuk DNA. Modifikasi histon sangat penting untuk mengatur proses neurobiologis seperti fungsi jaringan saraf, plastisitas sinaptik, dan sinaptogenesis yang juga berkontribusi pada patofisiologi epilepsi. Vorinostat merupakan inhibitor luas HDAC yang biasanya digunakan untuk limfoma kutan.

Mulai musim semi ini, sebuah uji coba klinis akan dimulai di Rumah Sakit Anak Alberta, Kanada untuk mengeksplor efikasi vorinostat pada anak yang gagal merepon terapi anti-epilepsi.

Penelitian ini tidak hanya menginspirasi potensi terapi epilepsi baru selanjutnya, namun juga menginspirasi pendekatan penelitian terapi dengan mengeksplor obat-obat yang sudah ada untuk penyakit lain.

Sumber: Ibhazehiebo K,Gavrilovici C, Hoz C, Ma S, Rehak R, Kaushik G, Santoscoy P, Scott L, Nath, Kim D, Rho J, Kurrasch D.  A novel metabolism-based phenotypic drug discovery platform in zebrafish uncovers HDACs 1 and 3 as a potential combined anti-seizure drug target.  BRAIN 2018: 141; 744–761

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s