Kesehatan dan Kedokteran

Menentukan Waktu Kematian dengan Ekspresi Gen

Tubuh kita menyimpan sejuta misteri, mulai dari sejak pembuahan hingga tutup usia, masih banyak hal yang belum terungkap di dalam setiap lapisan penyusun badan ini. Dengan mendukung studi tentang kehidupan setelah kematian yang sudah dilakukan oleh peneliti lain sebelumnya, beberapa bulan lalu sekelompok peneliti di Portugal mempublikasikan hasil penelitiannya yang menggunakan software untuk mendeteksi waktu kematian. Mereka menyebutnya sebagai machine-learning; oleh karena software ini terbentuk dari pembelajaran pola-pola ekspresi gen sebelum diujikan.

enemuan Software untuk menentukan waktu kematian sangat bermanfaat bagi tim forensik

Penemuan Software untuk menentukan waktu kematian sangat bermanfaat bagi tim forensik (Sumber: MGN)

Machine – learning selanjutnya melakukan uji untuk memprediksi waktu kematian pada 129 individu yang sudah terdata dalam proyek GTEx (Genotype-Tissue Expression); sebuah megaproyek dari para pakar genetika dan biologi molekuler untuk mengukur aktivitas gen di dalam jaringan dari sekelompok besar orang, proyek ini bertujuan imagesuntuk membuat database dan bank jaringan untuk kebutuhan penelitian tentang aktivitas gen dan kerentanan terhadap penyakit.

Hasil uji dari software menunjukkan bahwa perubahan ekspresi gen pasca kematian sangatlah bervariasi jika dibandingkan dengan ekspresi gen pada manusia hidup. Otak dan limpa merupakan dua organ yang paling stabil dalam mengekspresikan gennya. Sementara, 600 gen pada otot dan usus besar mengalami keriuhan akibat dari aktivitasnya meningkat dan menurun setelah tubuh kehilangan nyawa.

Secara umum, Guigo, dkk memaparkan bahwa pada 6 jam setelah kematian, pada darah, ditemukan penurunan aktivitas gen, respon imun, dan metabolisme, namun terjadi peningkatan respon stress. Selanjutnya, pada 7 – 14 jam setelah kematian, terjadi perubahan mayor pada gen, baik peningkatan aktivitas maupun penurunan. Lalu, 14 jam setelah kematian, aktivitas gen tampak stabil.

Software ini merupakan langkah awal pemanfaatan aktivitas gen untuk kebutuhan forensik. Memang masih banyak yang perlu diperhatikan, salah satunya biaya dan efisiensi. Walaupun, hasil penelitian telah menunjukkan bahwa waktu kematian dapat ditentukan hanya dengan menggunakan aktivitas gen dari 2 jaringan (paru dan tiroid), namun tim peneliti belum dapat mengabaikan berapa jumlah gen yang cukup untuk memprediksi waktu kematian yang tepat. Hal yang patut digaris bawahi adalah semakin banyak gen, semakin besar biayanya.

Manfaat lain yang dapat diperoleh dari pola ekspresi gen adalah adanya tanda yang dapat mengantarkan kita pada penyebab kematian. Namun, hal ini berupa hipotesa dan harus diteliti lebih lanjut.

Melalui penelitian ini, kita dapat merasakan bahwa pergerakan ilmu sangatlah pesat. Beberapa tahun lalu aktivitas gen pasca kematian masih dievaluasi pada hewan coba, selanjutnya pada manusia dan kini sudah terbentuk sebuah software yang akan sangat membantu tim forensik untuk mengidentifikasi waktu kematian. Selalu ada pembaruan dan selalu ada hal yang perlu dipecahkan.

Sumber: Ferreira, et al. The effects of death and post-mortem cold ischemia on human tissue transcriptomes. NATURE COMMUNICATIONS. (2018) 9:490

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s