Kesehatan dan Kedokteran

Refleks Pupil pada Bayi dapat menjadi Tanda Autis Dini

Gangguan Spektrum Autis merupakan kondisi yang diturunkan dan mencapai 1% populasi dunia.  Gangguan ini merupakan penyakit kronik dan dapat berkaitan dengan gangguan fungsi, gangguan kesehatan mental, dan kualitas hidup yang rendah. Meskipun penyebab dari gangguan spektrum autis adalah kompleks dan heterogen, gen dan lingkungan adalah faktor-faktor yang diyakini mengacu pada mekanisme pembentukan otak pada tahun pertama kehidupan.

Gangguan Spektrum Autis baru benar-benar dapat terdiagnosa pada usia 3 tahun oleh karena gejala adanya perubahan dini pada komunikasi sosial dan interaksi bersamaan dengan perilaku berulang, kesukaan yang tinggi terhadap suatu hal baru mulai tampak. Namun pada panduan diagnosis terakhir, disebutkan juga adanya anomali pada kemampuan sensoris.

Salah satu kemampuan sensoris yang sudah diteliti adalah refleks pupil; sebuah reaksi natural dari mata ketika disinari cahaya. Sebelumnya telah ada hipotesis yang menunjukkan bahwa refleks pupil tergantung pada aseltilkolin (sebuah senyawa kimia dalam sel saraf yang dihasilkan tubuh untuk membantu komunikasi antar saraf). Adanya keunikan refleks pupil pada pasien autis dapat menggambarkan adanya gangguan dari system kolinergik; sebuah sistem yang memainkan peran penting dalam menyeimbangkan respon tubuh pada awal kehidupan.

blue_eyes_cute_baby-wide-1024x640

Refleks pupil merupakan suatu kemampuan sensoris yang penting dalam penilaian Autis (Sumber Gambar: visionsource-gallup.com)

Mengenai hubungan refleks pupil dan autis, studi sebelumnya menunjukkan bahwa pada anak dan dewasa yang terdiagnosis autis ditemukan bahwa memiliki refleks pupil lebih lemah daripada orang lain pada umumnya. Temuan inilah yang mendorong Nystrom, dkk. untuk menilai refleks pupil saudara bayi dari anak yang mengidap autis, dengan pertimbangan bayi tersebut memiliki risiko besar mengalami gangguan yang sama.

147 anak usia 9-10 bulan dengan risiko tinggi autis dan 40 anak tanpa fakto risiko dengan usia yang sama dinilai kontriksi pupilnya. Semua anak lantas diikuti perkembangannya hingga usia 3 tahun; usia akurat untuk menegakkan autis. Hasilnya sangat mengejutkan, terdapat 29 anak dari kelompok risiko tinggi yang terdiagnosis autis pada tahun ketiga. Setelah dirunut pada hasil penelitian usia bayinya, 29 anak ini memiliki refleks pupil yang lebih kuat (konstriksi pupil yang lebih besar) dari anak lainnya. Hasil ini justru berlawanan dengan hasil pemeriksaan pupil balita atau dewasa yang terdiagnosis autis. Satu hal yang mungkin menjadi alasan fenomena ini adalah adanya salah satu hasil penelitian ini yang menunjukkan perubahan konstriksi pupil (semakin menurun) yang berubah seiring waktu.

Selain itu, berdasarkan komponen skor Autism Diagnostic Observation Schedule-2 (ADOS-2), konstriksi pupil tersebut menunjukkan hubungan signifikan dengan tingkat keparahan dari autis yang berupa gangguan perilaku sosial.

Hasil ini masih belum matang untuk dijadikan sebagai metode klinis penegakan diagnosis. Namun demikian, penelitian ini telah memberikan sebuah hal baru yang dapat menjadi dasar dalam penegakan diagnosis autis yang lebih dini, meskipun masih perlu dilakukan penelitian lanjutan atau menggunakan sampel yang lebih besar. Semakin dini penegakan diagnosis, semakin cepat dapat dilakukan intervensi perilaku dan tentunya mempersiapkan dukungan dari keluarga.

 

Sumber:  Nyström P, Gliga T, Jobs E, Gredebäck G, Charman T, Johnson M, Bölte S, Falck-Ytter.  Enhanced pupillary light reflex in infancy is associated with autism diagnosis in toddlerhood.  NATURE COMMUNICATIONS. 2018. 9:1678

 

2 replies »

  1. Reblogged this on Secret Sky and commented:
    A child with autism is not ignoring you, they are simply waiting for you to enter their world.
    So, autism is not a tragedy, ignorance is the tragedy.
    Hopefully the early diagnostic tool can be found soon.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s