Kesehatan dan Kedokteran

Mengapa Kita lebih Percaya pada Komentar daripada Bukti?

Pernahkah terpikir mengapa kaum bumi datar tetap kukuh meski pendapatnya sudah ‘diratakan’ dengan berbagai bukti yang rasional?

Penemuan terbaru dari peneliti di University of Califonia Berkeley menunjukkan bahwa komentar seseorang terhadap suatu hal baru, dibandingkan dengan bukti-bukti yang logis, memberikan perasaan yakin yang lebih kuat pada seseorang yang mempelajarinya. Para psikolog perkembangan juga menemukan bahwa keyakinan seseorang terhadap suatu opini cenderung dikuatkan oleh reaksi positif atau negatif yang mereka terima dibandingkan dengan data saintifik dan logis. Temuan yang dipublikasikan oleh Marti, dkk., pada jurnal Open Mind ini memberikan bukti mengapa ketika masyarakat dikonfrontasi dengan opini-opini yang berdasar kuat (seperti pendapat ahli), namun berbeda dengan keyakinan yang mereka miliki saat ini; keyakinan mereka sendiri justru malah meningkat bukan menurun.

Fenomena keyakinan ini lazim dilihat pada perilaku seseorang dalam menerima informasi baru yang bertentangan dengan keyakinannya. Keyakinan yang subjektif sesungguhnya dapat membatasi horizon intelektual seseorang dalam proses belajar. Beberapa studi juga menegaskan bahwa jika seseorang berpikir dia tahu banyak tentang sesuatu, meskipun sesungguhnya tidak, seseorang tersebut akan cenderung tidak tertarik untuk mendalami suatu topik dan akan gagal memahami seberapa sedikit hal yang sebenarnya dia tahu.

Marti, dkk., merancang penelitian ini menggunakan konsep Boolean untuk menilai seberapa yakin seseorang terhadap opininya. Riset ini melibatkan lebih dari 550 peserta dewasa melalui platform Amazon Mechanical Turk. Eksperimen dilakukan dalam 3 tahap. Mereka diminta untuk mengidentifikasi kombinasi warna pada bangun datar di layar komputer mereka yang disebut dengan ‘Daxxy’. Tanpa adanya petunjuk tentang karakteristik Daxxy, subjek penelitian harus menebak secara acak apa saja komponen warna dan bentuk penyusun Daxxy. Mereka akan disajikan 24 bangun datar berwarna-warni, dan setiap mereka memilih salah satu dari pilihan tersebut, subjek penelitian akan menerima komentar apakah tebakan mereka benar atau salah. Lantas, pada setiap pilihan yang sudah dikomentari oleh komputer, mereka harus memilih apakah yakin atau tidak dengan jawaban awal mereka.

eks 1

Contoh pertanyaan penelitian pada Eksperimen I yang dijawab oleh subjek

eks-2.jpg

Contoh pertanyaan penelitian pada Eksperimen II yang dijawab oleh subjek

Hasil akhir menunjukkan bahwa subjek tidak menggunakan seluruh informasi yang didapatkan untuk meningkatkan kepastian mereka. Secara konsisten, pada eksperimen 1 hingga 3, subjek mendasari kepastian mereka hanya pada empat hingga lima terakhir dari hasil komentar identifikasi Daxxy yang benar dibandingkan dengan data keseluruhan. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa penilaian manusia sangat mudah terkontaminasi dengan komentar-komentar baru, sehingga jika komentar tersebut tidak benar atau palsu, maka akan menjurus pada pemahaman yang salah. Marti, dkk. juga mengajarkan kita bahwa strategi menggunakan komentar atau informasi terbaru dibandingkan dengan semua data yang sudah terakumulasi bukanlah tindakan yang tepat untuk mencapai kebenaran.

 

Sumber:

Marti, et. al.,  2018. Certainty Is Primarily Determined by Past Performance During Concept Learning.  OPEN MIND: Discoveries in Cognitive Science. 1-5
ScienceDaily, Why we stick to false beliefs: Feedback trumps hard evidence. September 4, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s