Kesehatan dan Kedokteran

Bagaimana Politik Mempengaruhi Cara Berpikir kita?

Akhir-akhir ini berita bohong (hoax) politik merajalela, anehnya, meski jelas-jelas ‘tampak dibodohi’ mengapa masih banyak yang percaya? Sebuah fenomena yang sangat paradox, dimana arus informasi sangat deras, namun sekelompok orang tampak tersiolasi dengan pandangan politiknya sendiri.

Hasil analisis yang dilakukan oleh Van Bavel dan Pereira, pada jurnal Trends in Cognitive Sciences, menunjukkan bahwa penghargaan terhadap identitas membuat masyarakat lebih mementingkan ‘harga diri’ kelompoknya daripada kebenaran data yang ada. Perbedaan nilai inilah yang menyebabkan sumber berita yang berkualitas saja tidak cukup, namun adanya pemahaman terhadap identitas akan menjembatani pemikiran masyarakat menjadi lebih rasional.

 

Mengapa identitas politik mampu membentuk keyakinan seseorang?

Teori identitas sosial menyebutkan bahwa seseorang akan mendefinisikan dirinya sebagai individu dan sebagai bagian dari berbagai kelompok sosial (salah satunya kelompok politik). Identitas sosial ini mempengaruhi sedikit banyak aspek kehidupan seseorang, salah satunya adalah cara menginterpretasikan informasi.  Hasil interpretasi ini selanjutnya akan membentuk penilaian, sikap dan perilaku dalam politik. Kebanyakan orang percaya bahwa ‘dunia’ yang selama ini di sekitar mereka adalah benar, sehingga jika ada pandangan yang berbeda dengan dunianya akan dianggap tidak benar.

Keterikatan terhadap suatu kelompok sosial terjadi karena kelompok ini mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial, yaitu kebutuhan untuk membentuk dan menjaga pertemanan, kebutuhan untuk memiliki ciri khas dari orang atau kelompok lain, dan kebutuhan untuk disenangi oleh orang lain.  Oleh karena itu, ketika seseorang menemukan konflik antara keyakinan dengan kenyataan, seseorang, atau yang dikenal dengan cognitive dissonance, ia akan berusaha mencegah atau mengurangi konflik tersebut. Sayangnya, cara yang paling sering dilakukan adalah dengan merasionalisasikan ‘kegagalan’ atau ‘kesalahan’ dari kelompok politiknya. Seringkali kita temui, ketika seorang pemimpin kelompok politik terciduk melakukan kesalahan tertentu, justru pengikut politiknya semakin menguatkan dukungannya, bahkan semakin gencar merekrut orang untuk menjadi bagian dari kelompoknya.

Gambaran area korteks orbitofrontal yang teraktivasi pada saat menerima informasi. Dapat dilihat bahwa respon seperti persepsi, fungsi eksekusi, memori dan perhatian dipengaruhi oleh nilai kepercayaan seseorang.

Bagaimana identitas politik dapat membentuk cara berpikir?

Identitas politik dapat mempengaruhi logika berpikir tentang politik, yang meliputi keyakinan seseorang terhadap tokoh politik tertentu, isu dan kebijakan politik, fakta saintifik, isu sosial, bahkan keyakinan terhadap kebenaran data ilmuwan. Bergerak dari perubahan sikap dan perilaku dalam mengambl keputusan, peneliti menganalisis respon otak dalam menilai keyakinan berdasarkan identitas.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, ditemukan bahwa bagian otak yang bernama kortex orbitofrontal bertanggung jawab dalam menimbang dua nilai utama yang sering bertentangan (misal: nilai identitas vs nilai kebenaran/akurasi). Area ini memiliki koneksi sistem otak yang sangat kaya, yang meliputi logika berpikir, memori, emosi, dan persepsi. Temuan ini menunjukkan bahwa keempat komponen sistem tersebut saling mempengaruhi dalam menghasilkan sikap akhir dari seseorang.

Dari segi logika berpikir, kita ketahui bahwa seseorang yang pandai dalam sains atau terpelajar akan dengan mudah menganalisis suatu masalah. Namun, kondisi ini dapat tidak berlaku ketika unsur politik mulai mempengaruhi. Hasil temuan Van Bavel ini dapat menjadi jawaban mengapa pada orang-orang yang “pintar”, belum tentu dapat melakukan analisis masalah dengan baik jika sudah dikaitkan dengan pilihan politik.

Selain itu, identitas politik juga sangat mempengaruhi memori dan persepsinya terhadap dunia. Dari segi memori, seseorang cenderung untuk melupakan kesalahan yang telah diperbuat oleh kelompok politiknya di masa lalu. Sementara, dalam aspek persepsi, seseorang akan selalu melihat dan menyimpulkan suatu hal yang mendukung pilihan politiknya.Misal, beberapa orang dengan pilihan politik berbeda menonton sebuah video yang berkaitan dengan isu politik, ketika diminta menyimpulkan isinya, mereka memiliki pandangan yang saling bertentangan yang bergantung pada afiliasi politiknya.

 

Bagaimana cara mengurangi bias dalam politik?

Setiap individu dalam negara demokrasi diharapkan memiliki pilihan politik pada saat pemilu. Oleh karena itu, membuat masyarakat menjadi lebih perhatian terhadap fakta daripada hoax adalah hal yang krusial. Strategi utama dalam memerangi bias dalam politik adalah dengan membuat mereka yakin bahwa kebutuhan mereka dapat terpenuhi tanpa harus ‘berbakti’ pada kelompok politik tertentu. Memastikan bahwa mereka diakui oleh kelompok lainnya, mengedukasi mereka dengan data dan fakta, bahkan membuat mereka berpikir seperti hakim, dokter atau ilmuwan, sebuah profesi yang memerlukan akurasi tingkat tinggi. Namun yang paling utama adalah membuat mereka kembali sadar bahwa mereka adalah warga negara yang sama-sama ingin membuat negaranya lebih baik.


Sumber: Jay J. Van Bavel, Andrea Pereira. The Partisan Brain: An Identity-Based Model of Political Belief. Trends in Cognitive Sciences, 2018

Sumber feature image: https://www.vecteezy.com/vector-art/230224-indonesia-pride-vector-illustration

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s