Kesehatan dan Kedokteran

Tidur dapat Menurunkan Risiko Penyakit Jantung

Tidur yang cukup adalah kunci dari kesehatan yang baik. Dewasa ini, kekurangan tidur atau kualitas tidur yang buruk telah menjadi masalah kesehatan sosial yang semakin mengglobal. Hampir sebagian orang dewasa di dunia tidur kurang dari rekomendasi waktu tidur per hari (7-8 jam).

Meskipun telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan risiko penyakit serius, seperti penyakit jantung-pembuluh darah, obesitas, diabetes, bahkan kanker, namun, mekanisme spesifik mengapa tidur dapat berpengaruh pada penyakit jantung baru diungkap oleh peneliti dari Massachussetss General Hospital. Pada hasil riset yang mereka publikasikan di jurnal Nature, peneliti mendeskripsikan peran tidur dalam mencegah terbentuknya kontributor utama penyakit jantung.

Peneliti melakukan uji coba pada tikus yang dikondisikan mengalami interupsi saat tidurnya. Interupsi ini berupa kebisingan ataupun rasa tidak nyaman (menggoyangkan tempat tidur atau melewatkan benda bergerak di sekitarnya). Keadaan ini dibuat untuk menyerupai keadaan manusia yang sering kali tidak mampu mempertahankan kualitas tidurnya dengan baik.

Penelitian yang dilakukan lebih dari 16 minggu ini menunjukkan tidak adanya perubahan berat badan, kadar kolesterol, atau kadar gula yang signifikan. Namun, tikus yang tidurnya terganggu membentuk plak aterosklerosis yang lebih besar dan banyak dibandingkan dengan tikus yang tidurnya cukup.

Aterosklerosis adalah penebalan arteri karena penumpukan plak pada dinding arteri. Plak ini utamanya terdiri dari kolesterol jahat (LDL) dan sel darah putih (leukosit). Plak inilah yang dapat menghambat kelancaran aliran darah hingga menyumbat total pembuluh darah; sebuah kondisi yang dikenal dengan penyakit jantung koroner dan stroke.

Ilustrasi aterosklerosis. Warna kuning menunjukkan adanya penumpukan plak pada pembuluh darah.

Cepatnya proses aterosklerosis ini didukung oleh temuan tingginya kadar leukosit (monosit, neutrofil dan makrofag) di pembuluh aorta tikus yang mengalami gangguan tidur. Kadar leukosit yang tinggi (leukositosis) diketahui sebagai salah satu tanda prediksi terjadinya penyakit kardiovaskular.

Menaiknya kadar leukosit ini bukan tanpa alasan. Rupanya gangguan tidur memicu tertekannya hormon hipokretin; hormon yang berperan dalam mengatur metabolism, selera makan, dan tidur. Merosotnya hormon ini yang menyebabkan efek tak terprediksi pada sumsum tulang belakang. Sebagai produsen sel darah, penurunan hormon ini ternyata mampu menaikkan produksi leukosit hingga mencapai dua kali lipat leukosit normal.

Peningkatan ini tentu berbahaya, sebab normalnya sumsum tulang mengeluarkan sel darah putih lebih banyak dari biasanya ketika terjadi infeksi (sebagai bentuk perlindungan). Apabila kadarnya menaik tanpa adanya infeksi, tentu akan mengganggu sistem imun dan organ lain. Kondisi leukosit yang tinggi disertai dengan konsumsi makanan harian yang tak terkontrol (umumnya tinggi lemak jenuh) ini yang menyebabkan proses terbentuknya plak aterosklerosis lebih cepat dan besar.

Proses terbentukanya aterosklerosis pada tikus yang terganggu tidurnya. Gangguan tidur memicu tertekannya hormon hipokretin (HCRT-1). Hormon ini menginduksi calon-calon leukosit baru (utamanya neutrofil) yang berada di sumsum tulang, untuk mengeluarkan sinyal CSF-1. Selanjutnya sel-sel monosit teraktivasi. Tingginya kadar leukosit ini menyebabkan plak aterosklerosis lebih mudah terbentuk.

Para pekerja keras boleh jadi merasa khawatir dengan temuan ini, akan tetapi ada hal menarik yang melegakan. Riset ini menunjukkan adanya efek yang reversibel dari kondisi ini. Pada tikus uji yang awalnya mengalami gangguan tidur, ketika pola tidurnya dikembalikan seperti semula, dalam beberapa minggu kadar hipokretinnya mulai menaik, begitu pula dengan plak aterosklerosis yang berkurang.

Uji ini memang masih terbatas dilakukan pada tikus, namun, mekanisme spesifik dari gangguan tidur yang menekan hormon hipokretin menjadi cikal bakal terbentuknya penyakit jantung dan stroke. Temuan ini akan menjadi dasar analisis pada manusia dan tentunya menjadi target potensial dalam terapi penyakit jantung dan pembuluh darah.

Sumber:
McAlpine CS, Kiss MG, Rattik S, He S, Vassalli A, Valet C, Anzai A, Chan CT, Mindur JE, Kahles F, Poller WC, Frodermann V, Fenn AM, Gregory AF, Halle L, Iwamoto Y, Hoyer FF, Binder CJ, Libby P, Tafti M, Scammell TE, Nahrendorf M, Swirski FK. Sleep modulates haematopoiesis and protects against atherosclerosis. Nature, 2019

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s